Postingan

Khasiat Petaicina

2.1 Petaicina Petai cina / Leucaena leucocephala   adalah flora yang mempunyai batang pohon keras dan berukuran tidak besar. Daunnya beragam terurai dalam tangkai berbilah ganda. Bunganya yang berjambul warna putih sering disebut cengkaruk. Buahnya mirip dengan buah petai (Parkia speciosa) tetapi ukurannya jauh lebih kecil dan berpenampang lebih tipis. Buah petai cina termasuk buah polong, berisi biji-bibji kecil yang jumlahnya cukup banyak. Petai cina oleh para petani di pedesaan sering ditanam sebagai tumbuhan pagar, pupuk hijau dan segalanya. Petai cina cocok hidup di dataran rendah hingga ketinggian 1500 meter di atas permukaan laut. Petai cina di Indonesia hampir musnah sehabis terjangkit hama wereng. Pengembangbiakannya selain dengan penyebaran biji yang sudah bau tanah juga sanggup dilakukan dengan cara stek batang. Cita rasanya mirip petai, aromanya khas dan menggugah selera makan. Biji petai cina biasanya dijadikan materi adonan pelas, urap, botok, buntil atau p...

Human Efforts In Tackling Environmental Pollution

A.   Environmental Pollution Based on the experience that environmental pollution, an outline of environmental pollution can be classified into water pollution, soil and air. a.   Water   Pollution   In order of human life, water plays an important role among many others for drinking, cooking, washing and bathing. There was also a lot of water needed to irrigate the fields, farms, industries, and more. Human action in fulfillment of their daily activities, inadvertently have increased the number of inorganic materials in water and pollute water. For example, removal of the detergent into the water can adversely impact on aquatic organisms. Paddy soil fertilization with artificial fertilizers or farm, then went into the water will cause the growth of aquatic plants that are not controlled, called eutrophication or blooming. Some types of plants such as algae, water hyacinth spikes and will grow rapidly and cover the surface of the waters so that sunlight...

Raden Ajeng Kartini

Raden Ajeng Kartini lahir pada 21 April tahun 1879 di kota Jepara, Jawa Tengah. Ia anak salah seorang aristokrat yang masih sangat taat pada sopan santun istiadat. Setelah lulus dari Sekolah Dasar ia tidak diperbolehkan melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi oleh orangtuanya. Ia dipingit sambil menunggu waktu untuk dinikahkan. Kartini kecil sangat murung dengan hal tersebut, ia ingin menentang tapi tak berani alasannya yaitu takut dianggap anak durhaka. Untuk menghilangkan kesedihannya, ia mengumpulkan buku-buku pelajaran dan buku ilmu pengetahuan lainnya yang kemudian dibacanya di taman rumah dengan ditemani Simbok (pembantunya). Akhirnya membaca menjadi kegemarannya, tiada hari tanpa membaca. Semua buku, termasuk surat kabar dibacanya. Kalau ada kesulitan dalam memahami buku-buku dan surat kabar yang dibacanya, ia selalu menanyakan kepada Bapaknya. Melalui buku inilah, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa (Belanda, yang waktu itu masih menjajah Indon...